Indonesia sebagai negara
berpopulasi tertinggi ke-4 tentunya memiliki tantangan yang nyaris yang sama
dengan negara China dan India. Problem kesehatan dan pendidikan selalu
dijadikan parameter untuk mengukur kesejahteraan rakyat di suatu Negara. Indonesia
dengan populasi 247 juta dimana diantaranya terdapat 51 juta siswa dan 2,7 juta
guru di lebih dari 293.000 sekolah, serta 300.000 dosen di lebih dari 2.700
perguruan tinggi yang tersebar di 17.508 pulau, 33 provinsi, 461
kabupaten/kota, 5.263 Kecamatan, dan 62.806 desa. Tentunya juga memiliki
tantangan khusus di bidang pendidikan.

Beberapa tantangan diantaranya adalah: masih banyaknya anak usia sekolah yang
belum dapat menikmati pendidikan dasar 9 tahun: angka partisipasi anak berusia
sekolah 7-12 tahun untuk bersekolah masih dibawah 80% (APK SMP 85,22 dan APK
SMA 52,2). Tantangan berikutnya adalah (1) tidak meratanya penyebaran sarana
dan prasarana pendidikan/sekolah (sebagai contoh: tidak semua sekolah memiliki
saluran telepon, apalagi koneksi internet): Kota vs Desa/Daerah
Terpencil/Daerah Perbatasan, Indonesia Barat vs Indonesia Timur. (2) Tidak
seragamnya dan masih rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang sekolah yang
ditandai dengan tingkat kelulusan UN yang masih rendah, demikian pula nilai UN
yang diperoleh siswa. (3) Rendahnya kualitas kompetensi tenaga pengajar, dimana
dari jumlah guru yang ada 2.692.217, ternyata yang memenuhi persyaratan
(tersertifikasi) hanya 727.381 orang atau baru 27% dari total jumlah guru di
Indonesia. Dan yang tidak kalah penting adalah (4) rendahnya tingkat
pemanfaatan TIK di sekolah yang telah memiliki fasilitas TIK (utilitas rendah),
disisi lain tidak semua sekolah mempunyai sarana TIK yang memadai.
Pada kesempatan ini pula perlu sama-sama kita luruskan kembali bahwa TIK bukan
hanya komputer dan internetnya, TIK juga melingkupi media informasi seperti
radio dan televisi serta media komunikasi seperti telepon maupun telepon
seluler dengan SMS, MMS, Music Player, Video Player, Kamera Foto Digital, dan
Kamera Video Digital-nya serta e-Book Reader-nya. Jadi banyak media alternatif
yang dapat dipilih oleh pengajar untuk menciptakan suasana pembelajaran yang
menyenangkan dan berkesan. TIK yang termanfaatkan dengan baik dan tepat di
dalam pendidikan akan: memperluas kesempatan belajar, meningkatkan efisiensi,
meningkatkan kualitas belajar, meningkatkan kualitas mengajar, memfasilitasi
pembentukan keterampilan, mendorong belajar sepanjang hayat berkelanjutan,
meningkatkan perencanaan kebijakan dan manajemen, serta mengurangi kesenjangan
digital.

Pemanfaatan TIK
Menurut pemanfaatannya, TIK di dalam pendidikan dapat dikategorisasikan menjadi
4 (empat) kelompok manfaat. ♣ Pertama, TIK sebagai Gudang Ilmu Pengetahuan, di
kelompok ini TIK dimanfaatkan sebagai sebagai Referensi Ilmu Pengetahuan
Terkini, Manajemen Pengetahuan, Jaringan Pakar Beragam Bidang Ilmu, Jaringan
Antar Institusi Pendidikan, Pusat Pengembangan Materi Ajar, Wahana Pengembangan
Kurikulum, dan Komunitas Perbandingan Standar Kompetensi. ♣ Kedua, TIK sebagai
Alat bantu Pembelajaran, di dalam kelompok ini sekurang-kurangnya ada 3 fungsi
TIK yang dapat dimanfaatkan sehari-hari di dalam proses belajar-
mengajar, yaitu (1) TIK sebagai alat bantu guru yang meliputi: Animasi
Peristiwa, Alat Uji Siswa, Sumber Referensi Ajar, Evaluasi Kinerja Siswa,
Simulasi Kasus, Alat Peraga Visual, dan Media Komunikasi Antar Guru. Kemudian
(2) TIK sebagai Alat Bantu Interaksi Guru-Siswa yang meliputi: Komunikasi
Guru-Siswa, Kolaborasi Kelompok Studi, dan Manajemen Kelas Terpadu. Sedangkan
(3) TIK sebagai Alat Bantu Siswa meliputi: Buku Interaktif , Belajar Mandiri,
Latihan Soal, Media Illustrasi, Simulasi Pelajaran, Alat Karya Siswa, dan media
Komunikasi Antar Siswa. ♣ Ketiga, TIK sebagai Fasilitas Pembelajaran, di dalam
kelompok ini TIK dapat dimanfaatkan sebagai: Perpustakaan Elektronik, Kelas
Virtual, Aplikasi Multimedia, Kelas Teater Multimedia, Kelas Jarak Jauh, Papan
Elektronik Sekolah, Alat Ajar Multi-Intelejensia, Pojok Internet, dan
Komunikasi Kolaborasi Kooperasi (Intranet Sekolah). dan ♣ Keempat, TIK sebagai
Infrastruktur Pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK kita temukan dukungan
teknis dan aplikatif untuk pembelajaran – baik dalam skala menengah maupun luas
– yang meliputi: Ragam Teknologi Kanal Distribusi, Ragam Aplikasi dan Perangkat
Lunak, Bahasa Pemrograman, Sistem Basis Data, Komputer Personal, Alat-Alat
Digital, Sistem Operasi, Sistem Jaringan dan Komunikasi Data, dan Infrastruktur
Teknologi Informasi (Media Transmisi). Berangkat dari optimalisasi pemanfaatan
TIK untuk pembelajaran tersebut kita berharap hal ini akan memberi sumbangsih
besar dalam peningkatan kualitas SDM Indonesia yang cerdas dan kompetitif
melalui pembangunan masyarakat berpengetahuan (knowledge-based society). Masyarakat
yang tangguh karena memiliki kecakapan: (1) ICT and media literacy skills), (2)
critical thinking skills, (3) problem-solving skills, (4) effective
communication skills, dan (5) collaborative skills yang diperlukan untuk
mengatasi setiap permasalahan dan tantangan hidupnya. Peran Guru & Siswa
Di dalam proses belajar-mengajar tentunya ada subjek dan objek yang berperan
secara aktif, dinamik dan interaktif di dalam ruang belajar, baik di dalam
kelas maupun di luar kelas. Guru & Siswa sama-sama dituntut untuk membuat
suasana belajar dan proses transfer of knowledge–nya berjalan menyenangkan
serta tidak membosankan. Oleh karena itu penataan peran Guru & Siswa di
dalam kelas yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran perlu dipahami dan
dimainkan dengan sebaik-baiknya. Kini di era pendidikan berbasis TIK, peran
Guru tidak hanya sebagai pengajar semata namun sekaligus menjadi fasilitator,
kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar bagi Siswa. Karenanya
Guru dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk
mengalami peristiwa belajar. Dengan peran Guru sebagaimana dimaksud, maka peran
Siswa pun mengalami perubahan, dari partisipan pasif menjadi partisipan aktif
yang banyak menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta
berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli. Disisi lain
Siswa juga dapat belajar secara individu, sebagaimana halnya juga kolaboratif
dengan siswa lain.
Untuk mendukung proses integrasi TIK di dalam pembelajaran, maka Manajemen
Sekolah, Guru dan Siswa harus memahami 9 (sembilan) prinsip integrasi TIK dalam
pembelajaran yang terdiri atas prinsip-prinsip:
1. Aktif: memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar
yang menarik dan bermakna.
2. Konstruktif: memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan
tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
3. Kolaboratif: memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang
saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi
masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
4. Antusiastik: memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha
untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Dialogis: memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses
sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi
tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
6. Kontekstual: memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang
bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based
learning”
7. Reflektif: memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari
serta
merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu
sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
8. Multisensory: memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai
modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik
(dePorter et al, 2000).
9. High order thinking skills training: memungkinkan untuk melatih kemampuan
berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.)
serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy”
(Fryer, 2001).
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka bukti otentik terjadinya
pembelajaran
berbasis TIK dapat kita cermati dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
yang disusun dan implementasinya yang dilaksanakan oleh setiap guru mata
pelajaran di sekolah. RPP yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran dapat
disusun melalui 2 (dua) pendekatan, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan
pragmatis. Pertama, Pendekatan Idealis dapat dimulai dengan menentukan topik,
kemudian menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan menentukan
aktifitas pembelajaran dengan memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program
audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi
sinkronous dan asinkronous lainnya) yang relevan untuk mencapai tujuan
pembelajaran tersebut. Kedua, Pendekatan Pragmatis dapat diawali dengan
mengidentifikasi TIK (seperti buku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM,
bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan
asinkronous lainnya) yang ada atau mungkin bisa dilakukan atau digunakan,
kemudian memilih topik-topik apa yang bisa didukung oleh keberadaan TIK
tersebut, dan diakhiri dengan merencanakan strategi pembelajaran yang relevan
untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar dari topik
pelajaran tersebut.
Adapun strategi yang dapat dipilih sesuai dengan kedua pendekatan tersebut
adalah strategi: Resources-based learning (pembelajaran berbasis sumber daya),
Case/problem-based learning (pembelajaran berbasis permasalahan/kasus
sehari-hari), Simulation-based
learning (pembelajaran berbasis simulasi), dan Colaborative-based learning
(pembelajaran berbasis kolaborasi). Peran TVE & Jardiknas Sebagaimana kita
ketahui bersama, tantangan terbesar negara kita dalam mencerdaskan bangsa
adalah akses setiap masyarakat Indonesia ke sumber-sumber pengetahuan dan
informasi pendidikan. Oleh karena itulah Depdiknas berupaya menjawab tantangan
tersebut dengan inisiatif yang penuh inovasi melalui penyelenggaraan siaran TV
Edukasi yang diresmikan pada tahun 2004 ini merupakan televisi yang
mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program pembelajaran. Kemudian
pada tahun 2006, Depdiknas menggelar Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional) yang
merupakan jaringan TIK nasional terbesar yang dimanfaatkan oleh Depdiknas untuk
keperluan komunikasi data administrasi, konten pembelajaran, serta informasi
dan kebijakan pendidikan. TVE yang kini telah memiliki saluran 2 untuk Guru ini
memiliki pola siaran: Informasi yang berisikan materi: News, Pola siaran yang
berisikan Kebijakan, Profil Guru, dan sebagainya; Tutorial (Pendidikan Formal)
yang berisikan materi: pembelajaran berdasarkan kurikulum Program SD, SMP, SMA,
SMK, PJJ S-1 PGSD konsorsium dan Program S1 PGSD Non Konsorsium; dan Pengayaan
yang berisikan materi: pengkayaan dan materi yang bertujuan untuk meningkatkan
kompetensi Guru. Sedangkan Jardiknas saat ini memiliki 1.072 node (simpul) Zona
Kantor dan Perguruan Tinggi yang tersebar di 33 provinsi dan 456
kabupaten/kota. Jardiknas yang berpusat di NOC Pustekkom Ciputat Banten dan NOC
Telkom Karet Jakarta ini difasilitasi bandwidth intranet, internet domestik dan
internet internasional yang cukup memadai untuk mendukung e-administrasi dan
e-pembelajaran di Indonesia. Dalam waktu dekat – dalam rangka memenuhi Inpres
nomor 5 tahun 2008 – Depdiknas akan mengembangkan Jardiknas Zona Sekolah untuk
15.000 sekolah dan Jardiknas Zona Perorangan untuk 7.943 tenaga pengajar yang
memiliki laptop. Media koneksi Jardiknas Zona Sekolah berorientasi static
internet (fixed), sedangkan Jardiknas Zona Perorangan berorientasi kepada
mobile internet. Konten Kita memahami bahwa infrastruktur semegah apapun tidak
akan berarti sama sekali jika tiada konten bermanfaat di dalamnya. Setiap hari
pengguna internet berselancar di dunia maya hanya untuk mencari konten yang
benar-benar diinginkannya secara instan. Baik didorong oleh rasa keingintahuan
terhadap suatu fenomena maupun sekedar membuktikan sebuah informasi. Demikian
halnya konten pendidikan yang disajikan melalui TVE maupun disediakan melalui
Jardiknas. Beberapa konten e-learning yang selama ini cukup mendukung
pembelajaran berbasis TIK adalah: Bimbingan Belajar Online, Bank Soal Online,
Uji Kompetensi Online, Smart School, Telekolaborasi, Digital Library, Research
Network, dan Video Conference PJJ. Salah satu konten yang cukup menyita
perhatian publik akhir-akhir ini adalah program buku murah yang dikemas di
dalam aplikasi Buku Sekolah Elektronik (BS) yang dapat diakses melalui:
bse.depdiknas.go.id. BSE merupakan langkah reformasi di bidang perbukuan dimana
Depdiknas telah membeli Hak Cipta buku-buku teks pelajaran SD, SMP, SMA, dan
SMK tersebut. Softcopy buku-buku teks pelajaran tersebut didistribusikan
melalui web BSE agar guru atau masyarakat dapat mengakses,
mengunduh, mencetak, mendistribusikan, atau menjualnya sesuai HET (Harga Eceran
Tertinggi) dimana saja dan kapan saja. Selain BSE versi Online yang dapat
diakses melalui internet, Depdiknas juga telah menyediakan dan mendistribusikan
BSE versi Offline yang dikemas di dalam cakram padat DVD. Demikian strategi
pengembangan pembelajaran berbasis TIK yang terus-menerus dikembangkan dan
didukung oleh Depdiknas melalui sejumlah inisiatif dan inovasi di bidang
teknologi pembelajaran, teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Kita
dapat berharap suatu saat nanti TVE dan Jardiknas dapat menjadi Pusat Konten
Pembelajaran yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja melalui koneksi
Kabel, Nirkabel & Satelit.
Sumber : Kwarta Adimphrana (Pembelajaran TIK)