Mendiknas Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Rangkang
Senin, 1 Maret 2010 09:55:29 - posting : latoel
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indoinesia Prof. DR. Ir.
Mohammad Nuh, DEA menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhamammad
SAW di Pondok Pesantren Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani Rangkang Kraksaan,
Sabtu (27/2) kemarin. Sebelum menghadiri kegiatan di Rangkang, terlebih
dahulu Mendiknas meresmikan rehabilitasi gedung SD DAK 2009 di SDN
Karangpranti I Kecamatan Pajarakan.Kehadiran Mendiknas ini disambut sekitar 6 ribu
undangan yang berasal dari para santri, guru-guru dan para kepala
sekolah se Kabupaten Probolinggo. Kehadirannya di Ponpes asuhan KH.
Hafidz Aminuddin ini terkesan istimewa. Pasalnya, ini merupakan
kunjungan pertama M. Nuh sejak menjabat sebagai Mendiknas RI.
Mendiknas yang semobil dengan Bupati Probolinggo Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si ini tiba di Ponpes Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani Rangkang sekitar pukul 11.00 WIB. Kehadirannya disambut langsung pengasuh pondok KH. Hafidz dan beberapa anggota Muspida Kabupaten Probolinggo.
Mantan Menkominfo ini disuguhi dengan tampilan lawak dari sanggar kesenian Dwijoyo asuhan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo yang banyak menceritakan tentang keberadaan dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo, salah satunya adalah program rintisan sekolah satu atap, PAKEM, dll.
Selain itu, M. Nuh juga disuguhi sandra tari asal muasal Kabupaten Probolinggo dengan perjuangan yang gigih oleh Bupati Pertama Probolinggo Kyai Djoyolelono. Sandra tari ini ditampilkan oleh para santri pondok pesantren bekerja sama dengan Dispendik Kabupaten Probolinggo. Tampilan cukup menyita perhatian Mendiknas dan ribuan undangan yang hadir, tidak jarang pula mereka memberikan applous (tepuk tangan) terhadap tampilan memukau para remaja yang masih berumur belasan tahun ini.
Dalam kesempatan itu, Mendiknas menyampaikan rasa penghargaannya kepada Ponpes Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani Rangkang yang telah peduli terhadap dunia pendidikan. “Saya memberikan penghargaan kepada Pondok ini, yang telah berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa, utamanya pendidikan di Kabupaten Probolinggo”, tegasnya.
M. Nuh juga menyampaikan bahwa sebelum merdeka saja, para pendahulu kita sudah peduli terhadap dunia pendidikan. Jadi menurutnya, saat ini kita harus lebih peduli lagi.
Sementara itu, Bupati Hasan dalam sambutannya yang juga mewakili panitia dan pengasuh pondok menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah bersama dengan tokoh masyarakat sudah banyak melakukan langkah untuk meningkatkan dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo, sepertinya di cetuskannya pendidikan sekolah satu atap.
Menurutnya, ide itu muncul setelah Pemerintah melakukan survey ke daerah-daerah terpencil, yang hasilnya adalah banyak ditemukan masyarakat yang masih berpendidikan rendah, bahkan rata-rata pendidikan tertinggi mereka adalah sekolah dasar. “Di daerah terpencil itu, dari kakek hingga cucunya semuanya lulusan SD bahkan banyak yang tidak lulus”, tegas orang nomor satu di Kabupaten Probolinggo ini.
Untuk itu pihaknya berinisiatif untuk mencetuskan pendidikan sekolah satu atap. Sehingga meskipun di daerah terpencil yang jauh dari lokasi sekolah mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, untuk merubah hidupnya agar lebih baik.
Pada akhir acara, Mendiknas melakukan dialog dengan perwakilan dari PGRI, Anggota DPRD dan perwakilan ulama. Rata-rata Mendiknas mendapatkan keluhan terhadap minimnya kesejahteraan bagi PTT dan GTT.
Mendiknas yang semobil dengan Bupati Probolinggo Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si ini tiba di Ponpes Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani Rangkang sekitar pukul 11.00 WIB. Kehadirannya disambut langsung pengasuh pondok KH. Hafidz dan beberapa anggota Muspida Kabupaten Probolinggo.
Mantan Menkominfo ini disuguhi dengan tampilan lawak dari sanggar kesenian Dwijoyo asuhan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo yang banyak menceritakan tentang keberadaan dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo, salah satunya adalah program rintisan sekolah satu atap, PAKEM, dll.
Selain itu, M. Nuh juga disuguhi sandra tari asal muasal Kabupaten Probolinggo dengan perjuangan yang gigih oleh Bupati Pertama Probolinggo Kyai Djoyolelono. Sandra tari ini ditampilkan oleh para santri pondok pesantren bekerja sama dengan Dispendik Kabupaten Probolinggo. Tampilan cukup menyita perhatian Mendiknas dan ribuan undangan yang hadir, tidak jarang pula mereka memberikan applous (tepuk tangan) terhadap tampilan memukau para remaja yang masih berumur belasan tahun ini.
Dalam kesempatan itu, Mendiknas menyampaikan rasa penghargaannya kepada Ponpes Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani Rangkang yang telah peduli terhadap dunia pendidikan. “Saya memberikan penghargaan kepada Pondok ini, yang telah berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa, utamanya pendidikan di Kabupaten Probolinggo”, tegasnya.
M. Nuh juga menyampaikan bahwa sebelum merdeka saja, para pendahulu kita sudah peduli terhadap dunia pendidikan. Jadi menurutnya, saat ini kita harus lebih peduli lagi.
Sementara itu, Bupati Hasan dalam sambutannya yang juga mewakili panitia dan pengasuh pondok menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah bersama dengan tokoh masyarakat sudah banyak melakukan langkah untuk meningkatkan dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo, sepertinya di cetuskannya pendidikan sekolah satu atap.
Menurutnya, ide itu muncul setelah Pemerintah melakukan survey ke daerah-daerah terpencil, yang hasilnya adalah banyak ditemukan masyarakat yang masih berpendidikan rendah, bahkan rata-rata pendidikan tertinggi mereka adalah sekolah dasar. “Di daerah terpencil itu, dari kakek hingga cucunya semuanya lulusan SD bahkan banyak yang tidak lulus”, tegas orang nomor satu di Kabupaten Probolinggo ini.
Untuk itu pihaknya berinisiatif untuk mencetuskan pendidikan sekolah satu atap. Sehingga meskipun di daerah terpencil yang jauh dari lokasi sekolah mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, untuk merubah hidupnya agar lebih baik.
Pada akhir acara, Mendiknas melakukan dialog dengan perwakilan dari PGRI, Anggota DPRD dan perwakilan ulama. Rata-rata Mendiknas mendapatkan keluhan terhadap minimnya kesejahteraan bagi PTT dan GTT.
Dalam kesempatan tersebut Mendiknas M. Nuh juga memberikan penghargaan kepada santri Ponpes Syeh Abdul Qadir Al-Jailani yang telah hafal Al-Qur'an dan lulus tafsir Al-Qur'an. Mendiknas mengaku bangga karena santri yang berprestasi ini kebanyakan masih berusia belasan tahun
Sumber:Pemkab.Prob
